A. Kasus Pertama:
Seorang suami bernama Tio yang mengalami disfungsi seksual. Tio yang berusia 43 tahun tidak dapat mengontrol respon ereksinya dengan cara yang sama. Sejak perceraiannya tujuh tahun yang lalu, Tio mengalami masalah yang berulang dalam hal kegagalan ereksi. Sejalan dengan waktu Tio menemukan pasangan baru hanya untuk menemukan bahwa dirinya tidak mampu untuk menunjukan performa seksual yang baik. Takut kejadian itu terulang, ia akan memutuskan hubungan. Ia tidak mampu menghadapinya. Untuk beberapa waktu ia hanya berkencan secara teratur dan kemudian bertemu dengan Ani. Dalam sembilan bulan berhubungan dengan Ani, Tio tidak mampu memberikan performanya ketika di tempat tidur dan itu membuatnya frustasi. Pada awalnya ia ereksi dan kemudian saat mendekati Ani penisnya lemas secara tiba-tiba.
Tahapan Konseling:
1. Tahapan Awal
Tahapan awal konseling dilaksanakan dengan tujuan untuk menciptakan hubungan baik dengan klien agar klien dapat terlibat langsung dalam proses konseling. Dalam membina hubungan baik antara konselor dan klien, ada rasa percaya antara keduanya, saling menerima dan bekerja sama dalam menyelesaikan masalahnya. Dalam kasus ini konselor harus bisa membuat Tio percaya bahwa dia dapat membantu menyelesaikan masalahnya dan dapat bersikap terbuka dalam mengungkapkan masalahnya. Untuk itu konselor harus dapat menerima bahwa masalah klien benar-benar terjadi.
2. Tahapan Inti
Tahapan inti konseling diselenggarakan dengan tujuan untuk membantu klien memahami gambaran dirinya, hakekat masalah yang dihadapinya, penyebabnya dan menemukan alternatif pemecahan masalah tersebut.
Tahap ini terdiri dari:
a. Eksplorasi Kondisi Klien
Bagaimana konselor mengkondisikan keadaan klien dalam konseling atau berusaha mengadakan perubahan pada tingkah laku dan perasaan klien.
b. Identifikasi Masalah dan Penyebabnya
Dalam tahap ini konselor mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah. Ada 5 faktor yang menjadi penyebab dalam kasus ini yaitu faktor biologis, psikodinamika, psikososial, kognitif dan faktor hubungan. Dalam hal ini konselor menggali informasi dari klien tentang latar belakang keluarga seperti pola asuh, kondisi keluarga klien, konstelasi keluarga klien. Konselor juga melihat aspek psikologi klien seperti emosi, kognitif dan perilaku klien. Selain itu kegiatan-kegiatan rutin klien dan kebiasaan-kebiasaan yang diminati klien juga perlu dicatat. Hal penting lainnya adalah pengalaman yang dialami pada sebelum dan setelah mengalami masalah serta penilaian tentang dirinya dan penilaian tentang kondisi lingkungan yang berhubungan dengan masalah yang dialami. Riwayat Tio tentang mimpi basah dan ereksi sangat penting untuk menunjukan bahwa ia pada dasarnya menderita kecemasan akan performa. Ia berusaha keras untuk memaksakan ereksi. Tio menjadi penonton performanya sendiri, sebuah peran yang di sebut oleh Master dan Jhonson sebagai self-spectatoring (penonton diri sendiri). Bukannya berfokus pada pasangannya, ia malah berpusat pada penisnya. Hal terburuk yang di lakukan oleh Tio dalam masalah ereksi ini adalah memperhatikan penisnya.
c. Identifikasi Alternatif Pemecahan
Dalam tahap ini konselor memberikan beberapa pilihan penyelesaian dan pemecahan masalah, di sini diharapkan klien sendiri yang memilihnya.
Dalam kasus ini terdapat beberapa pilihan terapi yaitu:
- Penanganan Biomedis
Terutama melibatkan penggunaan obat-obatan untuk menangani disfungsi ereksi atau ejakulasi dini.
- Terapi Kognitif Behavioral (CBT)
Dalam kasus ini adalah terapi seks, teknik kognitif behavioral singkat yang membantu individu dan pasangan untuk mengembangkan hubungan seksual yang lebih memuaskan dan mengurangi kecemasan akan performa.
d. Pengujian dan Penetapan Alternatif Pemecahan
Pada tahap ini konselor meminta klien yaitu Tio dan Ani untuk memilih penanganan masalah disfungsional seksual dari beberapa pemilihan pemecahaan, dan dari pemilihan pemecahan masalah tersebut untuk dapat melakukan dan mengerjakannya. Pada kasus ini klien memilih untuk menggunakan terapi Kognitif Behavioral (CBT) dalam hal ini program terapi seks yang di bentuk berdasarkan tipe penanganan Master dan Jhonson. Tujuan awalnya adalah untuk memulihkan kenikmatan aktivitas seksual, terbebas dari kecemasan.
Pelaksanaan Terapi:
Pada awalnya pasangan di instruksikan untuk menjauhkan diri dari usaha melakukan hubungan seks demi membebaskan Tio dari tekanan untuk menunjukkan performa.
Pasangan ini mengalami kemajuan melalui serangkaian langkah:
a. Berusaha rileks bersama tanpa busana dan tidak saling menyentuh, seperti saat membaca atau menonton tv bersama
b. Latihan memusatkan sensasi
c. Stimulasi genital terhadap satu sama lain secara manual atau oral untuk orgasme
d. Hubungan tanpa tuntutan (hubungan seks di lakukan tanpa tekanan pada pria untuk memuaskan pasangannya). Pria dapat membantu pasangannya untuk mencapai orgasme dengan menggunakan stimulasi manual atau oral
e. Melanjutkan hubungan yang kuat (hubungan yang melibatkan dorongan yang kuat menggunakan teknik posisi alternatif dengan fokus pada kepuasan mutual). Pasangan di istruksikan untuk tidak memperbesar masalah yang mungkin dapat timbul.
3. Tahapan Akhir
Tahapan akhir konseling ini dilaksanakan dengan maksud untuk mengadakan penilaian terhadap keefektifan proses bantuan konseling dan penentuan kegiatan tindak lanjutnya. Tahap ini juga digunakan untuk mengakhiri proses pemberian bantuan, bisa bersifat sementara dan bisa bersifat tetap. Tindak lanjut maksudnya ada perhatian konselor untuk mengamati agar klien jangan sampai kembali ke masalah atau regresi ke masalah semula. Dalam kasus ini terlihat bahwa terapi kognitif behavioral dalam hal ini terapi seks dapat berhasil dengan baik. Program terapi ini membantu Tio mengatasi gangguan ereksinya. Tio terlepas dari keinginan untuk membuktikan dirinya sendiri dengan mencapai ereksi melalui perintah. Ia melepas posisinya sebagai kritikus. Ketika lampu sorot di matikan ia menjadi partisipan dan bukan sebagai penonton.
B. Kasus Kedua: Seorang yang bernama Xena yang mengalami anoreksia bulemia (penurunan berat badan secara drastis dengan cara mengeluarkan kembali makanan yang telah di makan). Orang-orang yang menderita bulimia nervosa dapat memasukkan ribuan kalori pada satu kali makan berlebihan dan setelah itu berusaha untuk mengeluarkan apa yang telah di konsumsi dengan memaksakan diri mereka untuk muntah dengan cara memasukkan jarinya pada tenggorokan.
Tahapan Konseling:
1. Tahapan Awal
Tahapan awal konseling dilaksanakan dengan tujuan untuk menciptakan hubungan baik dengan klien agar klien dapat terlibat langsung dalam proses konseling. Dalam membina hubungan baik antara konselor dan klien, ada rasa percaya antara keduanya, saling menerima dan bekerja sama dalam menyelesaikan masalahnya. Dalam kasus ini konselor harus bisa membuat Xena percaya bahwa dia dapat membantu menyelesaikan masalahnya dan dapat bersikap terbuka dalam mengungkapkan masalahnya. Untuk itu konselor harus dapat menerima bahwa masalah klien benar-benar terjadi.
2. Tahapan Inti
Tahapan inti konseling diselenggarakan dengan tujuan untuk membantu klien memahami gambaran dirinya, hakekat masalah yang dihadapinya, penyebabnya dan menemukan alternatif pemecahan masalah tersebut.
Tahap ini terdiri dari:
a. Eksplorasi Kondisi Klien
Bagaimana konselor mengkondisikan keadaan klien dalam konseling atau berusaha mengadakan perubahan pada tingkah laku dan perasaan klien.
b. Identifikasi Masalah dan Penyebabnya
Dalam tahap ini konselor mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah. Kasus ini dapat terjadi karna faktor sosiokultural, psikososial, keluarga dan faktor biologis. Dalam hal ini konselor menggali informasi dari klien tentang latar belakang keluarga seperti pola asuh, kondisi keluarga klien, konstelasi keluarga klien. Konselor juga melihat aspek psikologi klien seperti emosi, kognitif dan perilaku klien. Selain itu kegiatan-kegiatan rutin klien dan kebiasaan-kebiasaan yang diminati klien juga perlu dicatat. Hal penting lainnya adalah pengalaman yang dialami pada sebelum dan setelah mengalami masalah serta penilaian tentang dirinya dan penilaian tentang kondisi lingkungan yang berhubungan dengan masalah yang dialami.
c. Identifikasi Alternatif Pemecahan
Dalam tahap ini konselor memberikan beberapa pilihan penyelesaian dan pemecahan masalah, di sini diharapkan klien sendiri yang memilihnya. Dalam kasus ini terdapat beberapa pilihan terapi yaitu:
- Terapi Keluarga
Dapat digunakan untuk mengatasi konflik keluarga dan meningkatkan komunikasi di antara anggota keluarga yang menjadi salah satu faktor penyebab anoreksia bulemia
- Psikoterapi
Terapi Psikodinamika bertujuan untuk mengeksplorasi dan menyelesaikan konflik psikologis yang ada
- Kognitif Behavioral
Teknik terapi terapeutik yang berfokus membantu individu melakukan perubahan-perubahan, tidak hanya pada perilaku nyata tetapi juga dalam pemikiran, keyakinan dan sikap yang mendasarinya
- Penanganan Biomedis
Perawatan di RS mungkin di perlukan untuk membantu pasien anoreksia mencapai berat badan yang sehat atau pasien bulemia mengatasi siklus makan berlebih lalu mengeluarkannya dalam kasus di mana terapi rawat jalan tidak berhasil
d. Pengujian dan Penetapan Alternatif Pemecahan
Sebagai tinjjauan atas bukti yang ada mengatakan bahwa terapi kognitif Behavioral (Cognitive bahavioral/CBT) lebih efektif daripada penggunaan obat anti depresan. Obat anti depresan dapat di gunakan ketika penanganan CBT tidak berhasil. CBT sendiri berguna dalam membantu penderita bulimia untuk mengatasi pikiran dan keyakinan yang self defeating, seperti pemikiran yang tidak realistis dan perfeksionis mengenai diet dan berat badan. Pola disfungsional lain yang juga umum adalah berpikir dikotomis (semua atau tidak sama sekali) yang menjadi alasan mereka mengeluarkan makanan ketika gagal, walaupun sedikit, melakukan diet ketat. CBT juga memaparkan bagaimana penderita menitik beratkan penampilan sebagai penentu self worth. Untuk menghilangkan kebiasaan penderita memaksakan diri memuntahkan makanan maka terapis dapat menggunakan teknik behavioral yaitu pemaparan terhadap pencegahan respon (exposure with response preventation) yang dikembangkan untuk penanganan gangguan obsesif kompulsif.
Pelaksanaan Terapi:
Dalam teknik ini, pasien Bulimia yaitu yang bernama Xena diminta untuk memakan makanan yang menurutnya terlarang sementara terapis berdiri di sebelahnya untuk mencegah pasien muntah sampai keinginan memuntahkan itu hilang. Orang yang belajar menderita bulimia harus belajar untuk menolerir pelangggaran aturan dietnya tanpa harus mengeluarkannya. Terapi ini sekaligus bertujuan membentuk self esteem klien dalam memandang body image nya. Terapis memberikan penguatan berupa kalimat-kalimat yang mengubah mind set dari klien dalam hal ini Xena.
3. Tahapan Akhir
Tahapan akhir konseling ini dilaksanakan dengan maksud untuk mengadakan penilaian terhadap keefektifan proses bantuan konseling dan penentuan kegiatan tindak lanjutnya. Tahap ini juga digunakan untuk mengakhiri proses pemberian bantuan, bisa bersifat sementara dan bisa bersifat tetap. Tindak lanjut maksudnya ada perhatian konselor untuk mengamati agar klien jangan sampai kembali ke masalah atau regresi ke masalah semula.
B. Kasus Ketiga: Seorang laki-laki bernama Hercules yang menderita depresi di dorong untuk menguji keyakinannya bahwa ia akan di pecat dari pekerjaannya. Kasus ini mengilustrasikan beberapa distorsi kognitif atau kesalahan dari berpikir. Dalam kasus ini berkaitan dengan self perceptions mengenai kemalasan.
Hercules adalah seorang distributor pakaian berusia 35 tahun. Ia menderita gangguan depresi kronis semenjak perceraiannya selama 6 tahun. Selama setahun terakhir ini depresinya memburuk dan ia merasa makin sulit untuk menelepon pelanggannya tau pergi ke kantor. Setiap kali ia menghindar ke kantor dari bekerja, ia menjadi semakin sulit di kemudian hari untuk pergi ke kantor dan menemui atasannya. Ia yakin bahwa dirinya terancam akan di pecat karena ia sama sekali tidak melakukan kontak penjualan selama lebih dari satu bulan. Karena ia tidak memperoleh komisi sementara waktu, Hercules merasa tidak dapat menafkahi kedua putrinya dengan layak dan khawatir tidak bisa membiayai perkuliahan anak nya kelak. Hercules merasa yakin bahwa masalah utamanya bukanlah depresi melainkan kemalasan.
Tahapan Konseling:
1. Tahapan Awal
Tahapan awal konseling dilaksanakan dengan tujuan untuk menciptakan hubungan baik dengan klien agar klien dapat terlibat langsung dalam proses konseling. Dalam membina hubungan baik antara konselor dan klien, ada rasa percaya antara keduanya, saling menerima dan bekerja sama dalam menyelesaikan masalahnya. Dalam kasus ini konselor harus bisa membuat Hercules percaya bahwa dia dapat membantu menyelesaikan masalahnya dan dapat bersikap terbuka dalam mengungkapkan masalahnya. Untuk itu konselor harus dapat menerima bahwa masalah klien benar-benar terjadi.
2. Tahapan Inti
Tahapan inti konseling diselenggarakan dengan tujuan untuk membantu klien memahami gambaran dirinya, hakekat masalah yang dihadapinya, penyebabnya dan menemukan alternatif pemecahan masalah tersebut.
Tahap ini terdiri dari:
a. Eksplorasi Kondisi Klien
Bagaimana konselor mengkondisikan keadaan klien dalam konseling atau berusaha mengadakan perubahan pada tingkah laku dan perasaan klien.
b. Identifikasi Masalah dan Penyebabnya
Dalam tahap ini konselor mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah. Dalam hal ini konselor menggali informasi dari klien tentang latar belakang keluarga seperti pola asuh, kondisi keluarga klien, konstelasi keluarga klien. Konselor juga melihat aspek psikologi klien seperti emosi, kognitif dan perilaku klien. Selain itu kegiatan-kegiatan rutin klien dan kebiasaan-kebiasaan yang diminati klien juga perlu dicatat. Hal penting lainnya adalah pengalaman yang dialami pada sebelum dan setelah mengalami masalah serta penilaian tentang dirinya dan penilaian tentang kondisi lingkungan yang berhubungan dengan masalah yang dialami.
c. Identifikasi Alternatif Pemecahan
Dalam tahap ini konselor memberikan beberapa pilihan penyelesaian dan pemecahan masalah, di sini diharapkan klien sendiri yang memilihnya.
Dalam kasus ini terdapat beberapa pilihan terapi yaitu:
- Terapi Kognitif Beck
Berfokus pada kognisi maladaptif. Terapis kognitif mendorong klien untuk mengenali dan mengubah kesalahan dalam berpikir, di sebut dengan distorsi kognitif, yang mempengaruhi mood dan menyebabkan hendaya perilaku, seperti kecenderungan untuk membesar-besarkan kejadian negatif dan mengecilkan pencapaian pribadi.
- Terapi Perilaku Rasional-Emotif
Pendekatan terapeutik yang berfokus untuk membantu klien menggantikan keyakinan-keyakinan irasional, maladaptif, dengan keyakinan-keyakinan yang lebih adaptif
- Terapi Kelompok
Metode terapi di mana sebuah kelompok yang anggotanya terdiri dari para klien yang bertemu bersama dengan seorang terapis.
- Terapi Kognitif Behavioral
Teknik terapi terapeutik yang berfokus membantu individu melakukan perubahan-perubahan, tidak hanya pada perilaku nyata tetapi juga dalam pemikiran, keyakinan dan sikap yang mendasarinya.
- Terapi Elektrik
Merupakan penggabungan aliran terapi yang berbeda. Terapi ini mencoba menggabungkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik dari berbagai orientasi terapeutik. Terapi ini di gunakan untuk mengubah perilaku maladaptif.
d. Pengujian dan Penetapan Alternatif Pemecahan
Pada tahap ini konselor meminta klien dari pemilihan pemecahan masalah tersebut untuk dapat melakukan dan mengerjakannya. Pada kasus ini klien memilih untuk menggunakan terapi Kognitif Beck.
Pelaksanaan Terapi:
Pertama terapis menunjukkan pemikiran Hercules yang tidak logis, yaitu tidak ada alasan yang riil bahwa atasannya akan memecatnya. Atasan nya justru akan mendorong dia untuk mencari pertolongan dan membayar sebagian dari biaya penanganan. Terapis juga menunjukkan bahwa menilai dirinya sebagai pemalas adalah tidak adil. Melihat fakta bahwa ia merupakan tenaga penjual yang rajin dan berhasil sebelum ia menjadi depresi. Walaupun tidak sepenuhnya dapat diyakinkan, klien ini setuju untuk melakukan pekerjaan rumah di mana ia harus menelepon atasannya dan salah satu langganannya untuk menawarkan barang. Atasannya mengekspresikan dukungan dan meyakinkankannya bahwa pekerjaannya aman. Langganannya mengolok-olok mengenai “liburannya” selama 6 minggu, tetapi memesan sesuatu dalam jumlah kecil. Klien atau Hercules merasakan sedikit tidak nyaman ketika menghadapi pelanggan dan tampak pucat. Dalam jangka waktu beberapa minggu Hercules secara bertahap dapat menolong dirinya untuk melakukan rutinitas normal, menelepon pelanggan dan membuat rencana masa depan. proses pengamatan dirinya dan dunianya dari perspektif yang benar-benar baru mengarah pada perbaikan umum dalam mood dan perilakunya.
3. Tahapan Akhir
Tahapan akhir konseling ini dilaksanakan dengan maksud untuk mengadakan penilaian terhadap keefektifan proses bantuan konseling dan penentuan kegiatan tindak lanjutnya. Tahap ini juga digunakan untuk mengakhiri proses pemberian bantuan, bisa bersifat sementara dan bisa bersifat tetap. Tindak lanjut maksudnya ada perhatian konselor untuk mengamati agar klien jangan sampai kembali ke masalah atau regresi ke masalah semula. Dalam kasus ini terlihat bahwa terapi Kognitif Beck berhasil dengan baik. Hal ini terlihat dari keberhasilan klien dalam melakukan rutinitas normal, menelepon pelanggan dan membuat rencana masa depan. proses pengamatan dirinya dan dunianya dari perspektif yang benar-benar baru mengarah pada perbaikan umum dalam mood dan perilakunya.